Hero yang Kalah, Secarik Kristologi Alternatif Glorius Bawengan

Hero yang Kalah, Secarik Kristologi Alternatif
Glorius Bawengan

"Seorang bernama Shisipus mendorong batu besar ke puncak tebing. Setiba di atas batu itu meluncur ke bawah, dan Shisipus mendorong ulang batu itu ke puncak. Meluncur lagi, mendorong ulang. Begitu tiada henti."
Mitos yang dihentar Albert Camus, sang filsuf itu, dimengerti sebagai melakukan sesuatu yang penuh kesia-siaan. Perulangan dari sebuah takdir yang tak bisa ditampik. Penerimaan dari sang nasib yang harus diterima dengan pasrah. Saya menolak tafsir Shisipus seperti itu.

Di dunia Yesus hidup, warisan ibadah kultus Yudaisme menikam ulu hati spiritual umat. Institusionalisasi agama menjadi dewa agung yang tak bisa ditolak.

Peraturan-peraturan agama, disahkan sebagai titah Tuhan, yang cuma punya dua muka. Dijalankan mendapat surga, ditolak terjebak neraka. Maka imam sebagai mediator Allah menjelma jadi Allah itu sendiri, sebab di tangannyalah kutuk dan berkat bagi umat ditentukan.

Yang muncul kemudian adalah sebuah perilaku ibadah yang palsu, penuh tipu daya spiritual. Jika dosa digurat di luar rumah ibadah, maka tak perlu risau, karena pengakuan dosa di altar agung yang menghapus semua itu. Maka jadilah rumah ibadah sebagai tempat cuci tangan dosa yang paling romantis. Sebab seusai pengakuan dosa, umat menjelma jadi iblis durjana lagi di luar sana.

Teriakan nabi-nabi Perjanjian Lama terjerembab di lipatan-lipatan kitab suci yang cuma jadi pajangan, sederet dengan tembikar yang beku. Suara lantang Amos, amarah Hosea, hardikan Yeremia, atau gugatan Yesaya, tumbang di kalbu umat yang hingar-bingar oleh mimpi sorga dalam tipu daya para imam.

Di dunia Yesus hidup, para pemilik modal menyambung tanah demi tanah, membangun gedung menjulang tinggi. Sementara si jelata terkapar di pintu gerbang kota yang kering. Perbincangan sosial telah disihir oleh mantra politik kekuasaan Romawi yang gemar memperlebar wilayah. Maka derita si kere di make up dengan lipstick politik yang rakus dengan intrik kekuasaan.

Lihatlah Pilatus yang gamang antara nurani kebenaran dengan stabilitas kekuasaan. Tengoklah ciuman Yudas yang mesra dengan dencing uang karena perut kosong yang meronta. Simaklah gelengan kepala “tak kenal” sang murid keras bernama Petrus, yang berjudi antara khianat dan cinta. Pandanglah betapa para perempuan dengan kerudung air mata yang rontok tanpa daya di kaki amarah dan caci maki berbau busuk dari armada kedengkian.

Dan Yesus pun diam. Sebenarnya, kalau Dia mau, bisa saja dia tiup segalanya jadi debu. Andai Ia mau – kata Martin Scorsese dalam film The Last Tempation of Christ, film yang lebih punya bobot dibanding Passionnya Mel Gibson, – dia bisa turun dari salib dan hidup nikmat seperti manusia tebusannya. Tapi tidak. Yesus lelaki dari Galilea – sebuah kampung kumuh warga merana – itu memilih tak hendak terjebak pada tampilan agama dengan aturan, undang-undang, meski ia pun tak sepenuhnya menolak itu.

Yesus tak kepingin terbentur pada dilema borjuisme dan proletariat, antara kekayaan dan kemiskinan, “ Zakheus….., Aku akan menumpang di rumah-mu….,” KataNya, sebagai keberpihakan pada seorang kaya, yang hatinya luluh dalam pertobatan dan memberi berkat materinya bagi sesama.

Jika Yesus diam di Gethsemani, di arak-arakan berdarah Via Dolorosa, di rejaman tombak bukit Golghota, bukan ia tak mampu melawan.

Secara politis Yesus pun punya penganut yang sebanding dengan masa brutal Yohanes Pembabtis. Bukan cuma sebuah perlawanan dengan kekerasan yang Ia tolak, seperti tutur-Nya,” Jika pipi kananmu dikemplang, persembahkan pipi kirimu…”, tapi Yesus mau mengajar semua orang bahwa jauh di dalam kepentingan agama yang tulus dan realitas hegemoni sosio-politis berdirilah manusia dengan seluruh keberadaannya. Maka manusialah yang harus dihargai, bukan perangkat-perangkat yang menghiasinya. Bukalah catatan perampokan di dekat Yerikho, ketika si kafir Samaria yang membalut luka sesamanya.

Jika Yesus diam, karena ia mau menyejajarkan nilai kemanusiaan sebagai jembatan Allah dan dunia. Mungkin benar kata sastrawan Rusia Tolstoy, ”….Yerusalem itu tidak jauh-jauh. Ia ada di hatimu, dan terekat.”

Kita bagai bercermin di telaga kasih Kristus yang agung ketika memasuki Passion, dalam Ibadah Kamis Putih lalu. Di sana kita melihat sebuah Kristologi yang amat berbeda dengan Kristologi kodian yang mengkidungkan “Aku anak Raja, Engkau anak raja. Kita semua anak Raja.” Yang melulu berkonotasi menang. Sebab bukan menang begitu yang kita maknai, yaitu menang menghadapi semuanya, tapi juga kesiapan untuk kalah menghadapi semuanya.

Sebab Kristologi Passion adalah melihat arti kemenangan bukan dalam kisah super hero yang mengalahkan musuh, seperti tuntutan penyamun di sisi salib Yesus, tapi bagaimana mampu berjalanan dalam ketaatan dan kesetiaan meski taruh-nya adalah kematian. Tulis Rendra dalam sajaknya,” Ia, Sang Kristus, maju untuk mati?”

Dan Shisipus bukanlah sebuah kesia-siaan, sabab orang yang mampu mendorong batu terus menerus seperti itu, hanya orang yang mau berdarah-darah dengan kesetiaan. Bagi saya Shisipus adalah sebuah ajaran kesetiaan. Di titik ini kita perlu kerendah-hatian.

Kata Dotoyewski, juga sastrawan Rusia,” Selama manusia ada, derita tak pernah mati.” Kesetiaan dari sumber mata air kerendah-hatian bukan meminta pundaknya dijauhkan dari derita, dari beban hidup. Tapi berkata;

    “Tuhan…kuatkan pundakku untuk memikul beban seberat apapun.”

Dan Yesus pun diam bicara, tapi tak diam memikul salib.

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip

The Best Time For Reading

calendars

Chating Ria


ShoutMix chat widget

This is Me

This is Me

Mengenai Saya

Foto saya
kalu udah melakukan sesuatu biasanya akan lupa ama hal lain, n yang paling sering dilakukan adalah belajar maka sering lupa ama makan....

teman-teman

Dafar Pengunjung