Aku dan Imanku Paul P. Poli, SH

Aku dan Imanku
Paul P. Poli, SH

Jay Kesler dalam bukunya: “Energizing Your Teenager`s Faith,” menempatkan perjalanan iman insan Kristiani dalam beberapa tahap:
  1. Anak Sekolah Dasar berbicara mengenai Tuhan Yesus, mengikuti apa yang sejak dini didengar dan diserapnya dari orangtua dan gurunya, baik di sekolah maupun di sekolah minggu. Oleh karenanya tahap ini dinamakan iman yang dialami, “experienced faith.”

  2. Siswa SMP sesuai perkembangan kepribadiannya dalam usia kelompok remaja melihat segalanya dalam perspektif interaksi dan relasi dengan sekelilingnya. Ia menempatkan hubungannya dengan Tuhan Yesus dalam kualifikasi “teman yang setia.” Dengar saja lagu-lagu pujian remaja. Kelihatan sekali betapa kepekaan mereka terhadap hubungan itu yang sangat berperan dalam kadar dan warna imannya, sehingga tahap ini dilukiskan dan dinamakan “affiliated faith.”

  3. Siswa SMU, sebagai pemuda dan sesuai dengan tahap perkembangan kedewasaannya tidak puas dengan apa yang dialaminya dan dengan kritis dan penuh semangat muda bertanya, dalam menimba dari pengalaman orangtuanya, yang arif dan bijaksana. Proses mencari-cari itu bermakna menemukan jati dirinya, termasuk apa yang dianggap cocok dengan kepribadiannya. Oleh karena itu, tahap ini dinamakan “searching faith.”

  4. Dalam perjalanan imannya sebagai orang dewasa, akhirnya ia menemukan imannya, yakni hubungan sangat pribadi dengan Kristus. Ini tahap yang paling kristis dalam perjalanan iman seseorang, yakni kesediaan untuk membuat “lifelong commitment” pribadi dengan Sang Juruselamat. Inilah tahap “own faith.”

    Proses tahap ke-4 ini di lingkungan GKI dilembagakan ke dalam Pengakuan Percaya/Sidi (ps. 25 Tata Laksana). GKI Pondok Indah sebagai lembaga dan organisasi bertambah anggotanya, yakni generasi penerusnya yang telah menemukan “own faith.” Memang banyak pihak turut berperan dalam proses mempersiapkan generasi penerus: orangtua, guru, pendeta, termasuk teman (peer). Tetapi yang terpenting ialah kesadaran mengenai peranan dan hubungan dengan Kristus, melalui kehadiran Roh Kudus (Yoh. 14:17), yang bermuara kepada penyerahan diri pribadi kepada-Nya, seperti dinasihatkan oleh Paulus kepada jemaat Efesus (Ef. 2:8-9).

Perjalanan iman yang terjadi di dalam ikatan keluarga, sebagai jemaat/gereja terkecil, di mana tata nilai Kristiani diletakkan, diindahkan dan diteruskan dalam proses interaksi generasi. Oleh karenanya keutuhan dan kesejahteraan keluarga menjadi tumpuan dan fokus pelayanan Jemaat GKI Pondok Indah, yang melambangkan tubuh Kristus (Ef. 4:15-16). Itulah sebabnya mengapa dalam kalender gereja setiap tahun dikhususkan satu bulan penuh untuk merenungkan kehadiran dan mensyukuri peran keluarga dalam jemaat.

Masalah yang biasa dirisaukan masyarakat, yakni narkotika, alkohol dan pornografi perlu kiranya disadari dan ditempatkan dalam perspektif aktualisasi fungsi keluarga sebagai jemaat/gereja terkecil (house church). Keluarga merupakan batu bata (building block) pembangunan jemaat. Di dalam lingkungan (milieu) itu, insan Kristiani dipandu dalam melakukan perjalanan imannya untuk menemukan: “Aku dan imanku.”

Kiranya Tuhan memimpin dan memberkati kita senantiasa. Amin.

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip

The Best Time For Reading

calendars

Chating Ria


ShoutMix chat widget

This is Me

This is Me

Mengenai Saya

Foto saya
kalu udah melakukan sesuatu biasanya akan lupa ama hal lain, n yang paling sering dilakukan adalah belajar maka sering lupa ama makan....

teman-teman

Dafar Pengunjung