| Apa itu Pentakosta? | | Kata Pentakosta, yang oleh LXX disalin dari kata khamisysyim yom (ibrani) atau pentekonta hemeras (Yunani), artinya: lima puluh hari. Dalam Perjanjian Lama, secara implisit kata ini muncul di Imamat 23:16, menjelaskan mengenai “waktu khusus” dalam mempersembahan berkas jelai untuk Allah YHWH, setelah orang Israel selesai menuai gandum selama beberapa minggu (7 minggu-bdk. Ulangan 16:9). | | Mengapa Pentakosta Dijadikan Waktu Khusus? | | Dalam PL, Pentakosta dijadikan salah satu perayaan keagamaan, karena Israel memandang penting adanya “pertemuan kudus” antara umat dengan Tuhan setelah rakyat bekerja (keras) sepanjang masa. | | Apa yang Dikerjakan Selama Pentakosta? | | Selama hari Raya ke-50, rakyat Israel, tidak boleh melakukan pekerjaan berat. Konsentrasi mereka hari itu adalah hadir di tempat kudus (Imamat 23:21) untuk: - Menyaksikan Imam mempersembahkan korban binatang ke hadapan Allah.
- Mengungkapkan rasa terima kasih mereka karena Tuhan sudah memberkati mereka dengan tuaian gandum.
- Menunjukkan rasa takut dan hormat sebagai umat yang telah ditebus.
- Memperingati sukacita yang dialami nenek moyang Israel pada waktu lepas dari Mesir (Ul 16:12).
- Memperingati pemberian Hukum Taurat di Sinai (sumber: Jubileum 1:1, Midrasy, Tankhuma 26c).
| | Apakah dalam PB masih Diberlakukan Perayaan Seperti Itu? | | Ada 3 ayat dalam PB yang menjelaskan mengenai Pentakosta, yaitu pada Kis 2:1, Kis 20:16, dan 1 Kor 16:18. Namun perayaan Pentakosta dalam PB diberikan makna baru, yaitu hari Turunnya Roh Kudus. Pada hari itu, sesudah kebangkitan dan kenaikan Kristus, murid-murid Yesus berkumpul di sebuah rumah di Yerusalem, dan mendapatkan tanda-tanda dari Sorga, melalui turunnya Roh Kudus yang memberi kekuatan serta berkat pada para murid. | | Apa Makna Pentakosta bagi Gereja? | | Menurut Tradisi Inggris, keagungan masa raya Paska dimahkotai dengan hari raya Pentakosta karena peran Roh Kudus di dalam gereja mulai lebih ditonjolkan. Moment Kehadiran Roh Kudus yang dinanti menjadi peringatan bahwa Tuhan memenuhi janji-Nya memelihara dan membimbing gereja dalam memberlakukan Kerajaan Allah melalui karunia-karunia Roh Kudus. | | Apa Makna Pentakosta Bagi Gereja Kita? | | - Menurut Pdt. Purboyo W. S, Pentakosta adalah peristiwa bahwa gereja diperlengkapi untuk menjadi tubuh Kristus. Melalui Pentakosta, Tubuh Kristus yang anggota-anggotanya adalah semua warga jemaat, juga diperlengkapi oleh Roh Kudus dengan berbagai karunia. Pertanyaannya, apakah karunia-karunia ini akan kita gunakan untuk membangun tubuh Kristus?
- Menurut Pdt. Rudianto Dj., Pentakosta mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita. Tuhan hadir dalam gereja dan hati kita, untuk menyertai selama-selamanya. Mengacu pada Yohanes 14, Pentakosta mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan kita sebagai yatim piatu. Ia yang berjanji akan datang kembali, setelah naik ke Sorga, ternyata benar-benar datang kembali menyertai gereja, menyertai kita selama-lamanya.
- Menurut Pdt. Agus Susanto, kata kuncinya adalah JAMINAN Tuhan beserta kita. Sebab Pentakosta merupakan perwujudan janji Tuhan yang tidak akan meninggalkan umat-Nya sesudah Ia menyatakan kemenangan-Nya. Pernyataan “Segala kuasa diberikan padaku baik di surga maupun di bumi” sebelum Yesus naik ke surga diwujudkan/ditandai melalui pencurahan Roh Kudus.
Sebab kalau saja Pentakosta tidak ada, barangkali kita masih bertanya-tanya tentang janji penyertaan Tuhan. Pentakosta, merupakan tanda bahwa janji penyertaan Yesus bukan sekedar janji. Jaminan itu seharusnya membuat kita tidak kecil hati/kecut hati dan takut lagi, apapun yang kita hadapi. - Menurut Pdt. Tumpal Tobing, Pentakosta mengingatkan kita kembali bahwa hanya melalui KUASA ROH, kita saat ini punya keberanian untuk bersaksi dan melayani.
- Menurut Pdt. Joas A. P, Pentakosta bermakna mendalam bagi beliau, karena dengan turunnya Roh Kudus, Allah sekali lagi menegaskan keterlibatan dan kekuasaannya atas sejarah dan hidup manusia. Pentakosta juga menghadirkan bermacam-macam kekayaan spiritual bagi gereja Tuhan. Ada sebagian orang yang menekankan karunia (kharismata) Roh Kudus, ada lagi yang menekankan buah Roh Kudus, dan penekanan-penekanan lainnya. Semuanya sah-sah saja, sejauh dipandang satu satu dari sekian banyak kekayaan spiritual yang dihasilkan dari peristiwa Pentakosta.
Pdt Joas secara pribadi melihat satu sudut yang penting bagi hidup gereja kita (GKI Pondok Indah), maupun dalam kebersamaan gereja-gereja, yaitu: di dalam Roh Kudus kita bisa bersatu sambil terus merayakan kepelbagaian. Kisah turunnya Roh Kudus (Kis. 2) menunjukkan bahwa Roh yang satu hadir dalam wujud banyak lidah (tongues of fire). Keseimbangan antara “yang satu” dan “yang banyak” juga muncul berulang kali dalam Alkitab. Misalnya, dalam 1 Korintus 12-14 Paulus menegaskan, “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh” (1Kor 12:4). Mempercayai Roh Kudus berarti mempercayai bahwa Ia bisa bekerja dengan cara yang berbeda dari apa yang kita alami. Dia tak dapat terpenjara oleh doktrin kita, konsep kita, pun gereja kita. “Angin (pneuma - Roh) bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” (Yoh 3:8) | | Pertanyaan Untuk Kita Renungkan Adalah; | - Apakah sebagai anggota tubuh Kristus, kita menyadari bahwa Roh Kudus menyertai, menguatkan dan memberanikan kita untuk hidup, bersaksi dan melayani Tuhan?
- Apakah dengan hadirnya Roh Kudus yang terwujud dalam rupa-rupa karunia di dalam gereja kita (termasuk untuk kita secara pribadi), dapat menghasilkan kebersamaan merayakan kepelbagaian itu?
Selamat Merayakan Pentakosta! | |
0 komentar:
Posting Komentar